Have a question?
Message sent Close

Ilmu itu Memanggil Amal, Akankah Kita Menjawabnya?

Sering kita mendengar ungkapan bahwa esensi dari ilmu bukanlah sekadar apa yang berhasil kita hafal di luar kepala atau catatan tebal yang tersusun rapi di lemari. Lebih dari itu, ilmu sejati adalah ilmu yang mampu memberikan manfaat nyata dan membawa perubahan positif bagi spiritualitas serta karakter pemiliknya. Penuntut ilmu syar’i yang sesungguhnya harus mampu mencerminkan nilai-nilai ilmu tersebut ke dalam perilaku sehari-hari. Sebab, para ulama mengumpamakan bahwa ilmu yang tidak diamalkan itu ibarat sebatang pohon besar yang rimbun namun sama sekali tidak membuahkan hasil.

 

Akar Masalah: Melupakan Diri Sendiri dalam Kubangan Wacana

Salah satu fenomena menyedihkan yang kerap menjangkiti para penuntut ilmu di akhir zaman adalah ketika seseorang begitu bersemangat, vokal, dan sibuk mendakwahi, menasihati, atau mengoreksi kesalahan orang lain, namun di saat yang sama ia justru melupakan dirinya sendiri. Ilmu hanya dijadikan alat konsumsi lisan dan bahan perdebatan, bukan sebagai sarana perbaikan jiwa (tazkiyatun nafs). Terkait hal ini, Allah SWT memberikan teguran yang sangat keras dan menohok di dalam Al-Qur’an bagi siapa saja yang mengabaikan pengamalan ilmunya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مقتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3).

Penting untuk Dipahami: Pertanggungjawaban di Akhirat Kelak

Menuntut ilmu bukanlah sekadar hobi atau pengisi waktu luang, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang memiliki konsekuensi logis di akhirat kelak. Setiap penuntut ilmu tidak akan bisa meloloskan diri dari pertanyaan mendalam mengenai sejauh mana ia memperlakukan ilmunya. Rasulullah SAW memperingatkan kita semua melalui sabdanya:

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حتى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ…

“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat, sehingga Allah akan menanyakan tentang umurnya dihabiskan untuk apa dan tentang ilmunya diamalkan atau tidak…” (HR. Tirmidzi).

Oleh karena itu, Dr. Anas Ahmad Karzun mengingatkan dalam bab Mengamalkan Ilmu di kitabnya, bahwa tujuan akhir dari belajar agama adalah agar ilmu tersebut menjadi pelindung serta pembela (hujjah lahul) bagi kita di hadapan Allah, dan bukannya berbalik menjadi penuntut serta pemberat dosa (hujjah ‘alaihi) karena kelalaian kita dalam mengamalkanny

Tinggalkan Balasan