Blog
Khutbah: Ramadhan, Ukhuwah, dan Seni Menjadi Manusia Bermanfaat
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sahabat Manafee.
Pernahkah kita duduk sejenak dan merenung tentang nikmat usia? Coba kita hitung, sudah berapa kali kita bertemu dengan bulan Ramadhan? Mungkin ada yang sudah 20, 30, bahkan 40 kali.
Tahukah Anda? Baginda Nabi Muhammad ﷺ hanya merasakan 9 kali Ramadhan sejak kewajiban puasa diturunkan pada tahun ke-2 Hijriyah hingga beliau wafat
Sebagian sahabat bahkan mungkin merasakannya lebih sedikit lagi.
Sementara kita? Kita diberi kesempatan berkali-kali oleh Allah. Ini adalah nikmat besar yang wajib kita syukuri bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan amal nyata.
Allah berfirman:
Sementara kita? Kita diberi kesempatan berkali-kali oleh Allah. Ini adalah nikmat besar yang wajib kita syukuri bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan amal nyata.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Jangan Sampai Menjadi Orang yang Celaka
Ada sebuah peringatan keras yang harus kita camkan. Suatu ketika, Nabi ﷺ mengamini doa Malaikat Jibril yang berkata:
رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ
“Celaka seseorang yang mendapati Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya.” (HR. Ahmad).
Bayangkan, Nabi sendiri yang mengamini doa kebinasaan itu! Mengapa?
Karena di bulan ini pintu surga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup rapat.
Namun, ampunan tidak datang otomatis. Kita tidak akan mendapatkannya jika kita lelah berpuasa tapi meninggalkan sholat, karena:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاة
“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim).
Begitu juga bagi mereka yang tidak menjaga lisan dari perkataan dusta, Allah tidak butuh pada puasanya.
Belajar dari Strategi Peradaban Nabi: Ukhuwah
Saat Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, strategi pertamanya untuk membangun peradaban bukanlah ekonomi atau politik, melainkan mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar.
Allah memuji mereka dalam firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Kita bisa belajar dari kisah Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Ar-Rabi’. Sa’ad yang kaya raya menawarkan separuh hartanya dengan totalitas.
Namun, Abdurrahman bin Auf menunjukkan mentalitas yang luar biasa dengan menjawab:
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ
“Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.
Inilah kunci ukhuwah: Yang membantu harus totalitas, yang dibantu harus tahu diri dan tidak merepotkan.
Dengan ukhuwah inilah egoisme hancur dan peradaban Islam bangkit.
Membawa Semangat Ukhuwah ke Dunia Kerja
Ukhuwah bukan hanya soal ibadah di masjid, tapi juga soal bagaimana kita bersikap di lingkungan kerja. Islam mengajarkan keseimbangan:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”
Jangan sampai ada budaya kerja yang tidak sehat, seperti senioritas yang kaku, ketidakpedulian dengan prinsip “yang penting saya aman”, atau menekan rekan kerja yang rajin sementara yang malas dibiarkan santai.
Ingat, mukmin itu seperti satu tubuh:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai dan menyayangi bagaikan satu tubuh.” (Muttafaq ‘alaih).
Jadilah Muslim Terbaik
Saudaraku, karakter utama seorang Muslim adalah memberikan manfaat seluas-luasnya, baik melalui ilmu, keahlian, maupun harta.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad).
Dan ingatlah janji Allah bahwa setiap kebaikan akan kembali kepada pelakunya:
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ
“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.” (QS. Al-Isra: 7).
Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperbaiki ukhuwah, saling memaafkan, dan menghilangkan dengki di antara kita.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.